Latest Entries »

Qadla’ dan Qadar Allah
 
Pendahuluan

Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah mengutus hambaNya Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam dengan membawa kebenaran, menyampaikan amanat kepada ummat dan berjihad dijalanNya hingga akhir hayat. Semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada beliau, berikut para keluarga, shahabat dan pengikutnya yang setia.

Dalam pertemuan ini, kami akan membahas suatu masalah yang kami anggap sangat penting bagi kita umat Islam, yaitu masalah Qadha’ dan Qadar. Mudah-mudahan Allah Ta’ala membukakan pintu karunia dan rahmatNya bagi kita, menjadikan kita termasuk para pembimbing yang mengikuti jalan kebenaran dan para pembina yang membawa pembaharuan.

Sebenarnya masalah ini sudah jelas. akan tetapi kalau bukan karena banyaknya pertanyaan dan banyaknya orang yang masih kabur dalam memahami masalah ini serta banyaknya orang yang membicarakanya, yang kadangkala benar tetapi seringkali salah; di samping itu tersebarnya pemahaman – pemahaman yang hanya karena mengikuti hawa nafsu dan adanya orang –orang fasik yang berdalih dengan qadha’ dan qadar untuk kefasikannya; seandainya bukan karena itu semua, niscaya kami tidak akan berbicara tentang masalah ini.

Sudah sejak duhulu masalah qadha’ dan qadar menjadi ajang perselisihan di kalangan umat Islam. Diriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam keluar menemui shahabatnya , ketika itu mereka sedang berselisih tentang masalah Qadha’ dan Qadar ( takdir ) maka beliau melarangnya dan memperingatkan bahwa kehancuran umat – umat terdahalu tiada lain karena perdebatan seperti ini.

Pengertian Tauhid & Macam – Macamnya

 
Image

Walaupun masalah qadha’ dan qadar menjadi ajang perselisian di kalangan umat Islam, tetapi Allah Ta’ala telah membuka hati para hambaNya yang beriman, yaitu para salaf shaleh yang mereka itu senantiasa menempuh jalan kebenaran dalam pemahaman dan pendapat. Menurut mereka qadha’ dan qadar adalah termasuk rububiyah Allah Ta’ala atas makhlukNya. Maka masalah ini termasuk dalam salah satu diantara tiga macam tauhid menurut pembagian ulama:

Pertama : Tauhid AL- Uluhiyah, ialah mengesakan Allah Ta’ala dalam beribadah, yakni beribadah hanya kepada Allah dan karenaNya semata.

Kedua : Tauhid Ar- Rububiyah, ialah mengesakan Allah Ta’ala dalam perbuatanNya , yakni mengimani dan meyakini bahwa hanya Allah yang mencipta, menguasai dan mengatur alam semesta ini.

Ketiga : Tauhid Al- Asma’ was- Shifat, ialah mengesakan Allah Ta’ala dalam asma’ dan sifatNya. Artinya mengimani bahwa tidak ada makhluk yang serupa dengan Allah Ta’ala dalam Dzat, Asma’; maupun Sifat.

Iman kepada Qadar adalah termasuk tauhid Ar-Rububiyah. Oleh karena itu imam Ahmad rahimahullah berkata : “Qadar adalah merupakan kekuasaan Allah Ta’ala “. Karena tak syak lagi, Qadar ( takdir ) termasuk qudrat dan kekuasaanNya yang menyeluruh, di samping itu, qadar adalah rahasia Allah Ta’ala yang tersembunyi, tak ada seorangpun yang dapat mengetahuinya kecuali Dia, tertulis pada Lauh Mahfuzh dan tak ada seorangpun yang dapat melihatnya. Kita tidak tahu, takdir baik atau buruk yang telah ditentukan untuk kita maupun untuk makhluk lainnya, kecuali setelah terjadi atau berdasarkan nash yang benar.

 
Pendapat – Pendapat Tentang Qadar
 
Image

Umat Islam dalam masalah qadar ini terpecah menjadi tiga golongan :

Pertama: mereka yang ekstrim dalam menetapkan qadar dan menolak adanya kehendak dan kemampuan makhluk. Mereka berpendapat bahwa manusia sama sekali tidak mempunyai kemampuan dan keinginan, dia hanya disetir dan tidak mempunyai pilihan, laksana pohon yang tertiup angin. Mereka tidak membedakan antara perbuatan manusia yang terjadi dengan kemauannya dan perbuatan yang terjadi tanpa kemauannya, tentu saja mereka ini keliru dan sesat, kerena sudah jelas menurut agama, akal dan adat kebiasaan bahwa manusia dapat membedakan antara perbuatan yang dikehendaki dan perbuatan yang terpaksa.

Kedua: mereka yang ekstrim dalam menetapkan kemampuan dan kehendak makhluk sehingga mereka menolak bahwa apa yang diperbuat manusia adalah karena kehendak dan keinginan Allah Ta’ala serta diciptakan olehNya. Menurut mereka, manusia memiliki kebebasan atas perbuatannya. Bahkan ada diantara mereka yang mengatakan bahwa Allah Ta’ala tidak mengetahui apa yang diperbuat oleh manusia kecuali setelah terjadi. Mereka inipun sangat ekstrim dalam menetapkan kemampuan dan kehendak makhluk.

Ketiga: mereka yang beriman, sehingga diberi petunjuk eleh Allah Ta’ala untuk menemukan kebenaran yang telah diperselisihkan. Mereka itu adalah Ahlussunnah Wal Jamaah. Dalam masalah ini mereka menempuh jalan tengah dengan berpijak di atas dalil syar’i dan dalil aqli. Mereka berpendapat bahwa perbuatan yang dijadikan Allah Ta’ala di alam semesta ini terbagi atas dua macam :

1- Perbuatan yang dilakukan oleh Allah Ta’ala terhadap makhlukNya. Dalam hal ini tak ada kekuasaan dan pilihan bagi siapapun. Seperti turunnya hujan, tumbuhnya tanaman, kehidupan, kematian, sakit, sehat dan banyak contoh lainnya yang dapat disaksikan pada makhluk Allah Ta’ala. Hal seperi ini, tentu saja tak ada kekuasaan dan kehendak bagi siapapun kecuali bagi Allah Ta’ala yang maha Esa dan Kuasa.

2- Perbuatan yang dilakukan oleh semua makhluk yang mempunyai kehendak. Perbuatan ini terjadi atas dasar keinginan dan kemauan pelakunya; karena Allah Ta’ala menjadikannya untuk mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

Artinya : “Bagi siapa diantara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus”. (At Takwir: 28).

Artinya : “Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat”.( Ali Imran : 152)

Artinya : “ Maka barang siapa yang ingin ( beriman ) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin ( kafir ) biarlah ia kafir “( Al Kahfi: 29)

Manusia bisa membedakan antara perbuatan yang terjadi kerena kehendaknya sendiri dan yang terjadi karena terpaksa. Sebagai contoh, orang yang dengan sadar turun dari atas rumah melalui tangga, ia tahu kalau perbuatannya atas dasar pilihan dan kehendaknya sendiri. Lain halnya kalau ia terjatuh dari atas rumah, ia tahu bahwa hal tersebut bukan karena kemauannya. Dia dapat membedakan antara kadua perbuatan ini, yang pertama atas dasar kumauannya dan yang kedua tanpa kemauannya. Dan siapapun mengetahui perbedaan ini.

Begitu juga orang yang menderita sakit beser umpamanya, ia tahu kalau air kencingnya keluar tanpa kemauanya. Tetapi apa bila ia sudah sembuh, ia sadar bahwa air kencingnya keluar dengan kemauannya. Dia mengetahui perbedaan antara kedua hal ini dan tak ada seorangpun yang mengingkari adanya perbedaan tersebut.

Demikian segala hal yang terjadi pada diri manusia, dia mengetahui, perbedaan antara mana yang terjadi dengan kumauannya dan mana yang tidak.

Akan tetapi, karena kasih sayang Allah Ta’ala , ada diantara perbuatan manusia yang terjadi atas kemauannya namun tidak dinyatakan sebagai perbuatannya. Seperti perbuatan orang yang kelupaan, dan orang yang sedang tidur. Firman Allah Ta’ala dalam kisah Ashabul Kahfi :

Artinya : “ ..Dan kami balik – balikkan mereka ke kanan dan ke kiri …” (Al- Kahfi: 18)

Padahal mereka sendiri yang sebenarnya berbalik ke kanan dan berbalik ke kiri, tetapi Allah Ta’ala menyatakan bahwa Dialah yang membalik – balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sebab orang yang sedang tidur tidak mempunyai kemauan dan pilihan serta tidak mendapatkan hukuman atas perbuatannya. 

Maka perbuatan tersebut dinisbahkan kepada Allah Ta’ala. Dan sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam :

“ Barang siapa yang lupa ketika dalam keadaan berpuasa, lalu makan atau minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, kerena Allah Ta’ala yang memberinya makan dan minum “

Dinyatakan dalam hadits ini, bahwa yang memberi makan dan minum adalah Allah Ta’ala , karena perbuatannya tersebut terjadi di luar kesadarannya, maka seakan – akan terjadi tanpa kemauannya.

Kita semua mengetahui perbedaan antara perasaan sedih atau perasaan senang yang kadang kala dirasakan seseorang dalam dirinya tanpa kemauannya serta dia sendiri tidak mengetahui sebab dari kedua perasaan tersebut yang timbul dari perbuatan yang dilakukan oleh dirinya sendiri. Hal ini, alhamdulillah, sudah cukup jelas dan gamblang.

Istilah penting :

Jabri ialah orang yang berpendapat bahwa manusia itu terpaksa dalam perbuatannya, tidak mempunyai kehendak dan keinginan. Jabariyyah adalah pemahaman yang dimaukan orang Jabri. 

Qadari ialah orang yang berpendapat bahwa manusia memiliki kebebasan dalam perbuatannya dan mengingkari adanya takdir. Qadariyyah adalah pemahaman yang dimaukan orang Qadari.

 
Sanggahan Atas Pendapat Pertama (Jabariyyah)
 
Image

Seandainya kita mengambil dan mengikuti pendapat golongan yang pertama, yaitu mereka yang ekstrim dalam menetapkan qadar, niscaya sia-sialah syari’at ini dari tujuan semula. Sebab bila dikatakan bahwa manusia tidak mempunyai kehendak dalam perbuatannya, berarti tidak perlu dipuji atas perbuatannya yang terpuji dan tidak perlu dicela atas perbuatannya yang tercela. Karena pada hakekatnya perbuatan tersebut dilakukan tanpa kehendak dan keinginan darinya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Allah Ta’ala Maha Suci dari pendapat dan paham yang demikian ini.

Adalah merupakan kezhaliman, jika Allah Ta’ala menyiksa orang yang berbuat maksiat yang perbuatan maksiat tersebut terjadi bukan dengan kehendak dan keinginannya.

Pendapat seperti ini sangat jelas bertentangan dengan firman Allah Ta’ala :

Artinya : “ Dan ( malaikat ) yang menyertai dia berkata : ‘ inilah (catatan amalnya ) yang tersedia pada sisiku, Allah berfirman : “Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala; yang sangat enggan melakukan kebaikan, melanggar batas lagi ragu-ragu; yang menyembah sesembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat (pedih ). Sedang ( syaitan ) yang menyertai dia berkata : “ ya Robb kami, aku tidak menyesatkannya, tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh’. Allah berfirman : “ Janganlah kamu bertengkar d ihadapanku, padahal sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu. Keputusan di sisiKu tidak dapat di ubah, dan aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hambaKu ( Qaaf : 23- 29)

Dalam ayat ini Allah Ta’ala menjelaskan bahwa siksaan dariNya itu adalah kerena keadilanNya, dan sama sekali Dia tidak zhalim terhadap hamba-hambaNya. Sebab Allah Ta’ala telah memberikan peringatan dan ancaman kepada mereka, telah menjelaskan jalan kebenaran dan jalan kesesatan bagi mereka, akan tetapi mereka memilih jalan kesesatan, maka mereka tidak akan memiliki alasan di hadapan Allah Ta’ala untuk membantah keputusanNya.

Andaikata kita menganut pendapat yang batil ini, niscaya sia-sialah firman Allah Ta’ala ini :

Artinya: “( kami utus mereka) sebagai rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah sesudah di utusnya Rasul-rasul itu. Dan Allah maha Perkasa lagi maha Bijaksana “. ( An- Nisaa’ : 165)

Dalam ayat ini Allah Ta’ala menjelaskan bahwa tidak ada alasan lagi bagi manusia setelah di utusnya para Rasul, karena sudah jelas hujjah Allah Ta’ala atas mereka. Maka seandainya masalah qadar bisa dijadikan alasan bagi mereka, tentu alasan ini akan tetap berlaku sekalipun sesudah di utusnya para Rasul. Karena qadar ( takdir) Allah Ta’ala sudah ada sejak dahulu sebelum diutusnya para Rasul dan tetap ada sesudah di utusnya mereka.

Dengan demikian pendapat ini adalah batil karena tidak sesuai dengan nash (dalil) dan kenyataan, sebagaimana telah kami uraikan dengan contoh- contoh di atas.

Sanggahan Atas Pendapat Kedua (Qadariyyah)

Adapun pendapat kedua, yaitu pendapat golongan yang ekstrim dalam menetapkan kemampuan manusia, maka pendapat inipun bertentangan dangan nash dan kenyataan. Sebab banyak ayat yang menjelaskan bahwa kehendak manusia tidak lepas dari kehendak Allah Ta’ala. Firman Allah :

Artinya : “ ( yaitu ) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki ( menempuh jalan itu) kecuali apabila di kehendaki oleh Allah, Tuhan semesta Alam “.(At Takwir : 28- 29)

Artinya : Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka” ( Al Qashash: 68)

Artinya: “ Allah menyeru ( manusia ) ke Darussalam ( surga ), dan menunjuki orang yang dikehendakiNya kepada jalan yang lurus (Islam)” (Yunus: 25).

Mereka yang menganut pendapat ini sebenarnya telah mengingkari salah satu dari rububiyah Allah, dan berprasangka bahwa ada dalam kerajaan Allah ini apa yang tidak dikehendaki dan tidak di ciptakanNya. Padahal Allah lah yang menghendaki segala sesuatu, menciptakannya dan menentukan qadar ( takdir) nya.

Sekarang kalau semuanya kembali kepada kehendak Allah dan segalanya berada di Tangan Allah, lalu apakah jalan dan upaya yang akan ditempuh seseorang apa bila dia telah di takdirkan Allah tersesat dan tidak dapat petunjuk ?

Jawabnya : bahwa Allah Ta’ala menunjuki orang-orang yang patut mendapat petunjuk dan menyesatkan orang-orang yang patut menjadi sesat. Firman Allah :

Artinya: “ Maka tatkala mereka berpaling ( dari kebenaran ) Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik”.( Ash Shaf : 5)

Artinya : “( tetapi ) kerena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mareka dan Kami jadikan hati mereka keras mambatu, mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebahagian dari apa yang mereka yang telah di beri peringatan dengannya” . (Al Ma’idah : 13)

Di sini Allah Ta’ala menjelaskan bahwa Dia tidak menyesatkan orang yang sesat kecuali disebabkan oleh dirinya sendiri. Dan sebagaimana telah kami terangkan tadi bahwa manusia tidak dapat mengetahui apa yang telah ditakdirkan oleh Allah Ta’ala untuk dirinya. Karena dia tidak mengetahui takdirnya kecuali apabila sudah terjadi, maka dia tidak tahu apakah dia ditakdirkan Allah menjadi orang yang tersesat atau menjadi orang yang mendapat petunjuk.

Kalau begitu, mengapa jika seseorang menempuh jalan kesesatan lalu berdalih bahwa Allah Ta’ala telah menghendakinya demikian ? Apa tidak lebih patut baginya menempuh jalan kebenaran kemudian mengatakan bahwa Allah Ta’ala telah menunjukkan kepadaku jalan kebenaran.

Pantaskah dia menjadi orang yang jabri kalau tersesat dan qadari kalau berbuat kebaikan ?

Sungguh tak pantas seseorang menjadi jabri ketika berada dalam kesesatan dan kemaksiatan, kalau ia tersesat atau berbuat maksiat kepada Allah Ta’ala ia mengatakan : “ ini sudah takdirku, dan tak mungkin aku dapat keluar dari ketentuan dan takdir Allah”; tetapi ketika berada dalam ketaatan dan memperoleh taufiq dari Allah untuk berbuat ketaatan dan kebaikan ia mengatakan : “ ini kuperoleh dari diriku sendiri”. Dengan demikian ia menjadi qadari dalam segi ketaatan dan menjadi “jabri” dalam segi kemaksiatan.

Ini tidak dibenarkan sama sekali, sebab sebenarnya manusia mempunyai kehendak dan kemampuan.

Masalah hidayah persis seperti masalah rizki dan menuntut ilmu. Sebagaimana kita semua tahu bahwa manusia telah ditentukan untuknya rizki yang menjadi bagiannya. Namun demikian dia tetap berusaha untuk mencari rizki ke sana dan kemari baik di daerahnya sendiri atau di luar daerahnya. Tidak duduk di rumah saja saraya berkata : “ kalau sudah ditakdirkan untukku rizkiku tentu ia akan datang dengan sendirinya”. bahkan dia akan berusaha untuk mencari rizki tersebut. Padahal rizki ini disebutkan bersamaan dengan amal perbuatan, sebagaimana di sebutkan dalam hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud Radiyallahu ‘anhu: 

“Sesungguhnya kalian ini dihimpunkan kejadiannya dalam perut ibu selama empat puluh hari berupa air mani, kemudian berubah menjadi segumpal darah selama empat puluh hari pula, kemudian berubah menjadi segumpal daging selama empat puluh hari pula, lalu Allah mengutus seorang malaikat yang diberi tugas untuk mencatat empat perkara, yaitu rizkinya, ajalnya, amal perbuatannya dan apakah ia termasuk orang celaka atau bahagia”.

Jadi rizki inipun telah tercatat seperti halnya amal perbuatan, baik ataupun buruk, juga telah tercatat.

Kalau begitu, mengapa anda pergi kesana dan kemari untuk mencari rizki dunia tetapi tidak berbuat kebaikan untuk mencari rizki akherat dan mendapatkan kebahagiaan surga ? padahal kedua-duanya adalah sama, tidak ada perbedaannya.

Jika anda mau berusaha untuk mencari rizki dan untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan anda, sehingga kalau anda sakit, pergi kemanapun untuk mencari dokter ahli untuk mengobati penyakit anda, padahal anda tuhu kalau ajal telah ditentukan, tidak akan dapat bertambah dan tidak maupun berkurang. Anda tidak bersikap pasrah sambil berkata : “ sudahlah aku tetap tinggal di rumah saja meski menderita sakit , kerena kalaupun aku di takdirkan panjang umur aku akan tetap hidup”. Bahkan anda berusaha sekuat tenaga untuk mencari dokter yang ahli, yang sekiranya dapat menyembuhkan penyakit anda dengan takdir Allah . jika demikian, mengapa usaha anda di jalan akherat dan dalam amal shaleh tidak seperti usaha anda untuk kepentingan duniawi?

Sebagaiman telah aku kemukakan bahwa masalah qadar adalah rahasia Allah Ta’ala yang tersembunyi, tak mungkin anda dapat mengetahuinya. Sekarang anda di antara dua jalan : jalan yang membawa anda kepada keselamatan, kebahagiaan, kedamaian dan kemuliaan ; dan jalan yang dapat membawa anda kepada kehancuran, penyesalan, dan kehinaan. Sekarang anda sedang berdiri di antara ujung kedua jalan tersebut dan bebas untuk memilih tak ada seorangpun yang akan merintangi anda untuk melalui jalan yang kanan atau jalan yang kiri. Anda dapat pergi kemanapun sesuka hati anda. Lalu mengapa anda memilih jalan kiri (sesat) kemudian berdalih bahwa” itu sudah takdirku”? apa tidak lebih patut jika anda memilih jalan kanan dan mengatakan bahwa “ itu takdirku” ?

Untuk lebih jelasnya, apa bila anda mau bepergian ke suatu tempat dan di hadapan anda ada dua jalan. Yang satu mulus, lebih pendek dan lebih aman ; sedang yang kedua rusak, lebih panjang dan mengerikan. Tentu saja anda akan memilih jalan yang mulus, yang lebih pendek dan lebih aman, tidak memilih jalan yang tidak mulus, tidak pendek dan tidak aman. Ini berkenaan dengan jalan yang visual, begitu juga dengan yang non visual, sama saja dan tidak ada bedanya. Namun kadangkala hawa nafsulah yang memegang peran dan menguasai akal. 

Padahal, sebagai seorang mu’min seyogyanya akalnyalah yang harus lebih berperan dan menguasai hawa nafsunya. Jika orang menggunakan akalnya, maka akal itu menurut pengertian yang sebenarnya akan melindungi pemiliknya dari yang membahayakan dan membawanya kepada yang bermanfaat dan membahagiakan.

Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa manusia mempunyai kehendak dan pilihan dalam perbuatan yang di lakukannya secara sadar, bukan terpaksa. Kalau manusia berbuat dengan kehendak dan pilihannya untuk kepentingan dunia, maka iapun seharusnya begitu pula dalam usahanya menuju akherat. Bahkan jalan menuju akherat lebih jelas. Karena Allah Ta’ala telah menjelaskannya dalam Al-Qur’an dan melalui sabda RasulNya Shalallahu ‘alaihi wassalam , maka jalan menuju akherat tentu saja lebih jelas dan lebih terang daripada jalan untuk kepentingan dunia.

Namun kenyataannya, manusia mau berusaha untuk kepentingan dunia yang tidak terjamin hasilnya dan meninggalkan jalan menuju akhirat yang telah terjamin hasilnya dan diketahui balasannya berdasarkan janji Allah Ta’ala , dan Allah Ta’ala tidak akan menyalahi janjiNya.

Inilah yang menjadi ketetapan Ahlussunnah Wal Jamaah dan inilah yang menjadi aqidah serta madzhab mereka, yaitu bahwa manusia berbuat atas dasar kemauannya dan berkata menurut keinginannya, tetapi keinginan dan kemauannya itu tidak lepas dari kemauan dan kehendak Allah Ta’ala. Dan Ahlussunnah Wal Jamaah mengimani bahwa kehendak Allah Ta’ala tidak lepas dari hikmah kebijaksanaanNya, bukan kehendak yang mutlak da absolut, tetapi kehendak yang senantiasa sesuai dengan hikmah kebijaksanaanNya. Karena di antara asma Allah Ta’ala adalah AL- HAKIM yang artinya Maha Bijaksana yang memutuskan segala sesuatu dan bijaksana dalam keputusanNya.

Allah Ta’ala dengan sifat hikmahNya, menentukan hidayah bagi siapa yang di kehendakiNya yang menurut pengetahuanNya benar-benar menginginkan al-haq dan hatinya dalam istiqamah. Dan dengan sifat hikmahNya pula, dia menentukan kesesatan bagi siapa yang suka akan kesesatan dan hatinya tidak senang dengan Islam. Sifat hikmah Allah Ta’ala tidak dapat menerima bila orang yang suka akan kesesatan termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk, kecuali jika Allah Ta’ala memperbaiki hatinya dan merubah kehendaknya, dan Allah Ta’ala maha Kuasa atas segala sesuatu. Namun, sifat hikmahNya menetapkan bahwa setiap sebab berkait erat dengan dengan akibatNya.
 
Tingkatan Qadha’ Dan Qadar

Menurut Ahlussunnah Wal Jamaah, qadha’ dan qadar mempunyai empat tingkatan :

Pertama : Al-‘Ilm (pengetahuan)

Artinya mengimani dan meyakini bahwa Allah Ta’ala maha Tahu atas segala sesuatu. Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, secara umum maupun terperinci, baik itu termasuk perbuatanNya sendiri atau perbuatan makhlukNya. Tak ada sesuatupun yang tersembunyi bagiNya.

Kedua : Al-kitabah (penulisan)

Artinya mengimani bahwa Allah Ta’ala telah menuliskan ketetapan segala sesuatu dalam Lauh Mahfuzh.

Kedua tingkatan ini sama-sama dijelaskan oleh Allah Ta’ala dalam firmanNya:

Artinya : “ Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah”.(Al- Hajj:70)

Dalam ayat ini disebutkan lebih dahulu bahwa Allah Ta’ala mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi, kemudian dikatakan bahwa yang demikian itu tertulis dalam sebuah kitab Lauh Mahfuzh.

Sebagaimana dijelaskan pula oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dalam sabdanya:

“ Pertama kali tatkala Allah Ta’ala menciptakan qalam (pena), Dia firmankan kepadanya : Tulislah!. Qalam itu berkata : ya Tuhanku, apakah yang hendak kutulis? Allah Ta’ala berfirman : Tulislah apa saja yang akan terjadi ! maka seketika itu bergeraklah qalam itu menulis segala sesuatu yang akan terjadi hingga hari kiamat”.

Ketika Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam ditanya tentang apa yang hendak kita perbuat, apakah sudah ditetapkan atau tidak ? beliau menjawab : “ sudah ditetapkan”.

Dan ketika beliau ditanya: “Mengapa kita mesti berusaha dan tidak pasrah saja dengan takdir yang sudah tertulis ? Beliaupun menjawab : “Berusahalah kalian, masing-masing akan dimudahkan menurut takdir yang telah ditentukan baginya”. Kemudian beliau mensitir firman Alah :

Artinya : “ Adapun orang yang memberikan hartanya (di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik, maka Kami akan memudahkan baginya( jalan) yang mudah. Sedangkan orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan adanya pahala yang terbaik, maka Kami akan memudahkan baginya (jalan) yang sukar”.( Al Lail: 5 – 10)

Oleh karena itu hendaklah anda berusaha, sebagaimana yang diperintahkan nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam kepada para Sahabat. Anda akan di mudahkan menurut takdir yang telah ditentukan Allah Ta’ala.

Ketiga : Al- Masyiah ( kehendak ).

Artinya: bahwa segala sesuatu, yang terjadi atau tidak terjadi, di langit dan di bumi, adalah dengan kehendak Allah Ta’ala . hal ini dinyatakan jelas dalam Al-Qur’an Al –Karim. Dan Allah Ta’ala telah menetapkan bahwa apa yang diperbuatNya, serta apa yang diperbuat para hambaNya juga dengan kehendakNya. Firman Allah :

Artinya : “ ( yaitu ) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki ( menempuh jalan itu ) kecuali apa bila dikehendaki Allah,Tuhan semesta alam”. ( At Takwir : 28 -29)

Artinya: “ jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya”. ( Al – An’am : 112)

Artinya: “ Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehandakinya”. ( Al – Baqarah : 253)

Dalam ayat – ayat tersebut Allah Ta’ala menjelaskan bahwa apa yang diperbuat oleh manusia itu terjadi dengan kehendakNya.
Dan banyak pula ayat– ayat yang menunjukkan bahwa apa yang diperbuat Allah adalah dengan kehendakNya. Seperti firman Allah :

Artinya : “ Dan kalau kami menghendaki niscaya akan kami berikan kepada tiap – tiap jiwa petunjuk (bagi) nya”.( As Sajdah: 13)

Artinya : “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu”. ( Huud : 118)

Dan banyak lagi ayat – ayat yang menetapkan kehendak Allah dalam apa yang diperbuatNya.

Oleh karena itu, tidaklah sempurna keimanan seseorang kepada qadar ( takdir) kecuali dengan mengimani bahwa kehendak Allah Ta’ala meliputi segala sesuatu. Tak ada yang terjadi atau tidak terjadi kecuali dengan kehendakNya. Tak mungkin ada sesuatu yang terjadi di langit ataupun di bumi tanpa dengan kehendak Allah Ta’ala.

Keempat : Al – Khalq ( penciptaan )

Artinya mengimani bahwa Allah pencipta segala sesuatu. Apa yang ada di langit dan di bumi penciptanya tiada lain kecuali Allah Ta’ala. Sampai “ kematian” lawan dari kehidupan itupun diciptakan. Firman Allah : 

Artinya: “ Yang menjadikan hidup dan mati, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya”.( Al Mulk : 2)

Jadi segala sesuatu yang ada di langit ataupun di bumi penciptanya tiada lain kecuali Allah Ta’ala.

Kita semua mengetahui dan meyakini bahwa apa yang terjadi dari hasil perbuatan Allah adalah ciptaanNya. Seperti langit, bumi, gunung, sungai, matahari, bulan, bintang, angin, manusia dan hewan kesemuanya adalah ciptaan Allah. Demikian pula apa yang terjadi untuk para makhluk ini , seperti : sifat, perubahan dan keadaan, itupun ciptaan Allah Ta’ala.

Akan tetapi mungkin saja ada orang yang merasa sulit memahami, bagaimana dapat dikatakan bahwa perbuatan dan perkataan yang kita lakukan dengan kehendak kita ini adalah ciptaan Allah Ta’ala?

Jawabnya : Ya, memang demikian, sebab perbuatan dan perkataan kita ini timbul karena adanya dua faktor, yaitu kehendak dan kemampuan. Apa bila perbuatan manusia timbul karena kehendak dan kemampuannya, maka perlu diketahui bahwa yang menciptakan kehendak dan kemampuan manusia adalah Allah Ta’ala. Dan siapa yang menciptakan sebab dialah yang menciptakan akibatnya.

Jadi, sebagai argumentasi bahwa Allah-lah yang menciptakan perbuatan manusia maksudnya adalah bahwa apa yang diperbuat manusia itu timbul karena dua faktor, yaitu : kehendak dan kemampuan. Andaikata tidak ada kehendak dan kemampuan, tentu manusia tidak akan berbuat, karena andaikata dia menghendaki, tetapi tidak mampu, tidak akan dia berbuat, begitu pula andaikata dia mampu, tetapi tidak menghendaki, tidak akan terjadi suatu perbuatan. 

Jika perbuatan manusia terjadi karena adanya kehendak yang mantap dan kemampuan yang sempurna, sedangkan yang menciptakan kehendak dan kemampuan tadi pada diri manusia adalah Allah Ta’ala, maka dengan ini dapat dikatakan bahwa yang menciptakan perbuatan manusia adalah Allah Ta’ala.
Akan tetapi, pada hakekatnya manusialah yang berbuat, manusialah yang bersuci, yang melakukan shalat, yang menunaikan zakat, yang berpuasa, yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, yang berbuat kemaksiatan, yang berbuat ketaatan; hanya saja perbuatan ini ada dan terjadi dengan kehendak dan kemampuan yang diciptakan oleh Allah Ta’ala. Dan alhamdulillah hal ini sudah cukup jelas.

Keempat tingkatan yang disebutkan tadi wajib kita tetapkan untuk Allah Ta’ala. Dan hal ini tidak bertentangan apabila kita katakan bahwa manusia sebagai pelaku perbuatan.

Seperti halnya kita katakan : “api membakar” padahal yang menjadikan api dapat membakar adalah Allah Ta’ala. Api tidak dapat membakar dengan sendirinya, sebab seandainya api dapat membakar dengan sendirinya, tentu ketika nabi Ibrahim AS dilemparkan ke dalam api, akan terbakar hangus. Akan tetapi, ternyata beliau tidak mengalami cidera sedikitpun, karena Allah Ta’ala berfirman pada api itu :

Artinya : “ hai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim”.(Al Anbiya’: 69)

Sehingga Nabi Ibrahim tidak terbakar, bahkan tetap dalam keadaan sehat walafiat.

Jadi api tidak dapat membakar dengan sendirinya, tetapi Allah-lah yang menjadikan api tersebut mempunyai kekuatan untuk membakar. Kekuatan api untuk membakar adalah sama dengan kehendak dan kemampuan pada diri manusia untuk berbuat, tidak ada perbedaanya. Hanya saja, Karena manusia mempunyai kehendak, perasaan, pilihan dan tindakan, maka secara hukum yang dinyatakan sebagai pelaku tindakan adalah manusia. Dia akan mendapat balasan sesuai dengan apa yang diperbuatnya, karena dia berbuat menurut kehendak dan kemauannya sendiri.

 
 
 
 

 

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجعَل لَّهُ ۥ مَخرَجًا (٢)

 

Firman ALLAH SWT : Barangsiapa bertaqwa kepada ALLAH nescaya DIA akan membukakan jalan keluar baginya.( surah Attalaq ayat 2)

 

Ulasan Ayat :

1)    Bagi orang yang bertaqwa dan berserah diri kepada ALLAH SWT, terdapat sebuah nilai yang sangat agung.  Orang yang bertaqwa dengan sebenar-benar taqwa maka ia tidak akan ada sedikit pun mempunyai perasangka tentang lambatnya pertolongan ALLAH SWT, malah tidak ada istilah berputus asa dengan rahmat ALLAH dan tetap hatinya yakin bahawa akan ada jalan keluar pada masa akan datang.

2)    Apabila seorang hamba brtaqwa kepada ALLAH, maka kelapangan akan datang pada dirinya adalah perkara yang sudah pasti. Tidak perlu diragukan lagi bahawa ia pasti akan keluar daripada kesulitan yang sedang dihadapinya.

3)    Sesungguhnya segala sesuatu yang berlaku dan belum berlaku sudah pun ditetapkan oleh ALLAH SWT dalam apa jua urusan pada jangka masa yang telah ditentukan, semuanya mengikut pilihan dan kehendakNYA yang MAHA MENGETAHUI segala yang baik dan buruk buat hamba-hambaNYA.

4)    Sesungguhnya ALLAH SWT telah mengadakan ketentuanNYA dan batasan masa bagi setiap sesuatu adalah tepat dan tidak pernah salah.

5)    Oleh itu, kita hendaklah menyerahkan segala sesuatu semuanya kepada ALLAH SWT, kerana itu adalah kerjaNYA, dan kerja kita hanyalah bertaqwa kepadaNYA dan berserah diri, untuk mendapatkan ketaqwaan itu kita hendaklah berkerja dan bersungguh-sungguh menghamba diri kepada ALLAH, dan berusaha hingga berjaya mendapatkan apa yang diingini atau yang lebih baik daripada apa yang dinigini, semuanya bergantung kepada keyakinan kita kepada ALLAH SWT.

6)    Justeru itu, yakinlah bahawa apa sahaja yang ALLAH takdirkan kepada kita, itu merupakan sesuatu yang terbaik. Ketetapan ALLAH telah pasti kedatangannya. Kita hendaklah sabar menanti dengan penuh redha. Musibah dan bahagia berada di dalam kekuasaanNYA, kembalikan segalanya kepada ALLAH SWT. WALLAHU’ALAM.

Originally posted on suka kata-kata hikmah.:

Doa ku untuk mu…
dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang..

Ya Allah …
Panjangkanlah umur sahabatku. Kurniakanlah kesihatan yang baik padanya,
terangi hatinya dengan nur pancaran iman. Tetapkanlah hatinya, perluaskanlah rezekinya, dekatkanlah hatinya kepada kebaikan,
jauhkanlah hatinya pada kejahatan, tunaikanlah hajatnya baik hajat dalam agama,dunia dan akhirat ……

Ya Muhaimin …
Jika dia jatuh hati izinkanlah dia menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu agar tidak terjatuh dia dalam jurang cinta nafsu …
Jagalah hatinya agar tidak berpaling daripada melabuhkan hatinya pada hati-Mu.
Jika dia rindu, rindukanlah dia pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.

Ya Allah …
Jangan biarkan sahabatku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang
menyeru manusia kejalan-Mu.. jika kau halalkan aku merindui sahabatku,
janganlah aku melampaui batas sehingga melupakan daku pada cinta hakiki,
rindu abadi dan kasih sejati hanya untuk-Mu.

Ya Allah …
kurniakanlah sahabatku kesenangan, ketenangan, kecemerlangan dan hidayah dari-Mu dalam menempuh cabaran serta…

View original 61 more words

 

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِىْ جَعَلَ الْحَيَاةَ وَالْمَوْتَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلاً، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَرْسَلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينِ.

 

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

SIDANG JUMAAT YANG DIMULIAKAN,

Marilah kita semua menjuruskan ingatan dan kesedaran untuk kita sama-sama menghayati dan menyedari hanya Allah yang Maha Besar dan yang Maha Pemurah. Dibentangkan-Nya alam ini untuk kita, dicurahkan rahmat-Nya siang dan malam, sejak kita dilahirkan sampailah hari kematian kita. Bahkan rahmat Allah yang lebih besar dan lebih banyak lagi adalah sesudah kita mati, jika kita termasuk di kalangan orang yang beriman dan bertakwa serta banyak mengerjakan amal soleh selama hidup kita di dunia ini.

 

SIDANG JUMAAT YANG BERBAHAGIA,

Tanpa iman dan takwa, segala rahmat Allah akan terputus bila keluarnya nyawa dari tubuh kita. Orang yang beriman hendaklah meyakini bahawa ada kehidupan yang abadi dan lebih sempurna selepas kehidupan di dunia ini. Kehidupan inilah menjadi fokus utama orang-orang yang beriman.

 

Kerana itulah, persoalan akidah merupakan perkara yang paling asas dalam Islam. Islam diibaratkan sebagai bangunan, manakala akidah pula diibaratkan sebagai asas atau tapak kepada binaan tersebut. Jika rosak akidah seseorang maka rosaklah semua amalan yang dibina diatasnya. Atas dasar inilah Rasulullah SAW memulakan dakwahnya dengan persoalan akidah sebelum mengajar tentang hukum syariat Islam.

 

Walaupun Islam menganjurkan penggunaan akal fikiran namun dalam pembahasan akidah peranan akal wajib dibatasi. Apalagi persoalan akidah banyak berkait dengan perkara-perkara ghaib yang tidak mampu dicapai oleh akal manusia yang sangat terbatas. Atas dasar inilah khutbah Jumaat hari ini ingin membicarakan mengenai tajuk : “MENGHAYATI KEWUJUDAN SEKSA KUBUR”.

 

HADIRIN SIDANG JUMAAT YANG BERBAHAGIA,

Istilah “kubur” hanyalah berdasarkan kebiasaan setiap manusia yang meninggal dunia akan dikuburkan. Adakah setiap manusia mesti ada kubur jika mereka meninggal dunia?. Sudah pasti tidak, kerana kadang-kadang terdapat manusia yang tidak diketahui di mana kuburnya, seperti orang yang mati dimakan binatang buas, mati terbakar hangus, mati hancur berkecai jasadnya kerana kemalangan, mati hilang di laut dan sebagainya.

 

Namun menurut keyakinan ahli sunnah wal jamaah setiap manusia yang mati tetap akan berada di alam kubur atau di alam barzakh iaitu alam di antara alam dunia dengan alam akhirat. Ini berdasarkan Firman Allah dalam surah al-Mukminun ayat 99 -100:

 

 

Maksudnya: “Kesudahan golongan yang kufur ingkar apabila sampai ajal maut kepada salah seorang di antara mereka berkatalah ia “Wahai Tuhanku kembalikanlah daku (hidup semula di dunia). Supaya aku mengerjakan amal-amal yang soleh dalam perkara-perkara yang telah aku tinggalkan”. Tidak! Masakan dapat? Sesungguhnya perkataanya itu hanyalah kata-kata yang ia sahaja yang mengatakannya, sedang di hadapan mereka ada alam barzakh (yang mereka tinggal tetap padanya) hingga hari mereka dibangkitkan semula (pada hari kiamat).”

 

Menurut kamus Lisanul Arabi oleh Ibni Manzur, makna alam barzakh ialah suatu tempat di antara dunia dan akhirat sebelum dihimpunkan di padang Mahsyar daripada waktu mati hinggalah dibangkitkan atau ia juga bermakna dinding pembatas antara dua benda sejak dari waktu kematian seseorang sehinggalah dia dibangkitkan. Jadi sesiapa yang mati bermakna dia telah memasuki alam barzakh atau alam kubur.

 

 

 

SIDANG JUMAAT YANG DIRAHMATI ALLAH,

Banyak perkara di dunia ini yang kita tidak dapat saksikan dengan mata kasar tetapi kita tetap meyakini kewujudannya. Contohnya beberapa orang yang tidur nyenyak di atas satu hamparan. Ada di antara mereka bermimpi indah dan ketika ia bangun, jasadnya merasai nikmat yang dirasakan oleh rohnya ketika bermimpi. Demikian sebaliknya, orang yang bermimpi buruk dan mengerikan, bukan sahaja rohnya terseksa tetapi badannya juga rasa terseksa. Sedangkan mereka yang tidur berhampiran pula tidak mengetahui apa yang dirasakan oleh rakannya. Jika perkara seperti inipun diakui hakikat kewujudannya maka demikianlah dengan alam barzakh, malahan alam barzakh lebih hebat dari itu.

 

SIDANG JUMAAT YANG DIMULIAKAN,

Sesungguhnya nikmat dan azab kubur adalah sesuatu yang wajib kita imani dan yakini kewujudannya walaupun ia tidak dapat dibuktikan secara nyata tetapi ia termasuk dalam perkara “sam’iyyat” yang wajib kita yakini. Kerana Rasulullah SAW memerintahkan agar kita berlindung dari azab kubur sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh imam Muslim yang menyuruh para sahabat agar mengamalkan doa berikut:

 

اللَّهُمَّ اِنِّي اَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِيْ النَّارِ وَعَذَابٍ فِيْ الْقَبْرِ‏”

 

Maksudnya : “Wahai Tuhanku! Sesungguhnya aku mohon berlindung dari azab api neraka dan aku mohon berlindung dari azab kubur.”

 

Kita wajib berlindung diri dari azab kubur, kerana alam kubur merupakan persinggahan sementara untuk kehidupan selanjutnya. Jika di alam kubur kita mendapat kenikmatan, itulah tanda bahawa kita akan mendapat kemudahan dan kebahagiaan di alam akhirat nanti. Sebaliknya, apabila mendapat azab kubur, itulah petanda bahawa orang tersebut akan mendapat kesulitan di akhirat nanti. Sabda Rasulullah SAW:

 

“إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلَ الآخِرَةِ فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ، وَإِنْ لَمْ يَنْجَحْ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ.”

 

Maksudnya: “Sesungguhnya kubur itu, adalah singgahan pertama ke akhirat, sekiranya yang singgah itu terselamat, maka perjalanan selepas daripada itu lebih mudah lagi. Dan jika tidak selamat, maka perjalanan selepas daripada itu lebih sukar lagi.”

 

(Hadis riwayat at-Tirmizi)

 

HADIRIN SIDANG JUMAAT YANG DIMULIAKAN,

Pernahkah kita terfikir bagaimana bentuk azab atau nikmat kubur?. Rasulullah SAW bersabda:

 

“‏اِنَّ اَحَدَكُمْ اِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ اِنْ كَانَ مِنْ اَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ اَهْلِ الْجَنَّةِ وَاِنْ كَانَ مِنْ اَهْلِ النَّارِ فَمِنْ اَهْلِ النَّارِ يُقَالُ هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللَّهُ اِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.”

 

Maksudnya: “Apabila salah seorang di antara kamu mati, akan ditunjukkan kepada-Nya setiap pagi dan petang tempat tinggalnya. Bila ia penghuni syurga, akan ditunjukkan kepada-Nya kenikmatan syurga, dan bila ia penghuni neraka, akan ditunjukkan kepada-Nya keazaban neraka. Lalu dikatakan kepada mereka : “itulah tempat tinggalmu, sampailah Allah membangkitkanmu pada hari kiamat.”

 

 (Hadis riwayat Muslim)

 

Berdasarkan hadis tersebut nyatalah bahawa azab dan nikmat kubur pasti akan terjadi. Bagi mereka yang mempunyai keimanan yang mantap, ilmu Agama yang cukup, yakin akan kudrat dan kuasa Allah yang tiada tandingannya pasti akan yakin dengan adanya siksaan dan nikmat kubur. Hanya orang yang jahil dan sesat serta suka mendustakan Rasulullah SAW akan meragui dan mengingkari adanya azab kubur.

 

Sebenarnya di dalam Al-Quran terdapat lebih kurang 300 ayat yang menyatakan tentang kematian dan keadaan-keadaan kehidupan selepas daripada mati seperti di alam barzakh dan di akhirat. Nas-nas Al-Quran dan hadis-hadis Rasulullah SAW menerangkan bahawa roh itu kekal, ada roh yang mendapat nikmat kerana amalannya di dunia dahulu baik dan ada roh yang terseksa lantaran amalannya di dunia dahulu jahat.

 

Atas sebab itulah, gambaran tentang azab seksa dan nikmat kubur wajib kita imani dan yakini. Apa lagi hadis-hadis yang menerangkan tentang azab seksa dan nikmat kubur sebagaimana yang dinyatakan adalah hadis sahih dan kuat darjatnya.

 

 

SIDANG JUMAAT YANG DIRAHMATI ALLAH,

Apabila kita mengingati tentang kewujudan azab yang ditanggung selepas mati oleh orang-orang yang derhaka kepada Allah, maka kita terasa gementar kerana takut akan azab Allah yang menggerunkan dan insyaAllah akan mendekatkan diri kita kepada-Nya.

 

Justeru, kita boleh kasihkan harta tapi tidak lupakan soal hisab, kita boleh kasihkan rumah tapi tidak lupakan soal kubur, kita boleh kasihkan hidup tapi tidak lupakan soal maut, kita boleh kasihkan dunia tapi tidak lupakan soal akhirat.

 

Untuk itu, tidak ada jalan pintas melainkan kita wajib mematuhi segala yang diperintahkan Allah sebagaimana yang termaktub di dalam Al-Quran. Patuh segala perintah Allah adalah syarat untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menjadi kekasihnya.

 

Dengan mengingati azab kubur juga insyaAllah kita akan menjadi semakin takut untuk meninggalkan solat, meninggalkan puasa, tidak mengeluarkan zakat, merosakkan harta awam, melanggar batas-batas hukum syariat dan sebagainya. Dengan yang demikian akan memberi rangsangan kepada kita ke arah melakukan kebaikan yang sangat dituntut oleh Islam.

 

 

Yang bermaksud: “(Iaitu) orang-orang yang berdoa dengan berkata: Wahai Tuhan kami sesungguhnya kami telah beriman,oleh itu ampunkanlah dosa-dosa kami dan peliharalah kami dari azab api neraka.”

(Surah Ali-Imran ayat : 16)

 

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْءَانِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

(وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجعَل لَّهُ ۥ مَخرَجًا ( ٢

Firman ALLAH SWT : Barangsiapa bertaqwa kepada ALLAH nescaya DIA akan membukakan jalan keluar baginya.( surah Attalaq ayat 2)

 

Ulasan Ayat :

1)    Bagi orang yang bertaqwa dan berserah diri kepada ALLAH SWT, terdapat sebuah nilai yang sangat agung.  Orang yang bertaqwa dengan sebenar-benar taqwa maka ia tidak akan ada sedikit pun mempunyai perasangka tentang lambatnya pertolongan ALLAH SWT, malah tidak ada istilah berputus asa dengan rahmat ALLAH dan tetap hatinya yakin bahawa akan ada jalan keluar pada masa akan datang.

2)    Apabila seorang hamba brtaqwa kepada ALLAH, maka kelapangan akan datang pada dirinya adalah perkara yang sudah pasti. Tidak perlu diragukan lagi bahawa ia pasti akan keluar daripada kesulitan yang sedang dihadapinya.

3)    Sesungguhnya segala sesuatu yang berlaku dan belum berlaku sudah pun ditetapkan oleh ALLAH SWT dalam apa jua urusan pada jangka masa yang telah ditentukan, semuanya mengikut pilihan dan kehendakNYA yang MAHA MENGETAHUI segala yang baik dan buruk buat hamba-hambaNYA.

4)    Sesungguhnya ALLAH SWT telah mengadakan ketentuanNYA dan batasan masa bagi setiap sesuatu adalah tepat dan tidak pernah salah.

5)    Oleh itu, kita hendaklah menyerahkan segala sesuatu semuanya kepada ALLAH SWT, kerana itu adalah kerjaNYA, dan kerja kita hanyalah bertaqwa kepadaNYA dan berserah diri, untuk mendapatkan ketaqwaan itu kita hendaklah berkerja dan bersungguh-sungguh menghamba diri kepada ALLAH, dan berusaha hingga berjaya mendapatkan apa yang diingini atau yang lebih baik daripada apa yang dinigini, semuanya bergantung kepada keyakinan kita kepada ALLAH SWT.

6)    Justeru itu, yakinlah bahawa apa sahaja yang ALLAH takdirkan kepada kita, itu merupakan sesuatu yang terbaik. Ketetapan ALLAH telah pasti kedatangannya. Kita hendaklah sabar menanti dengan penuh redha. Musibah dan bahagia berada di dalam kekuasaanNYA, kembalikan segalanya kepada ALLAH SWT. WALLAHU’ALAM

INILAH JALANNYA

“Hai orang-orang yang beriman, berTAQWAlah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat),dan berTAQWAlah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al Hasyr: 18)

Umar Al-Khattab bertanya kepada Ubai bin Ka’ab tentang TAQWA.
Ubai menjawab “Bukankah anda pernah melewati jalan yang penuh duri?”
Jawab Umar”Ya”.
“Apa yang anda lakukan saat ini?”
“Saya bersiap-siap dan berjalan dengan hati-hati”.
“Itulah TAQWA”

Melalui dialog di atas,Sayyid Qutub berkata dalam tafsir Fil Zhilalil Qur’an.”itulah taqwa,kepekaan batin,kelembutan perasaan,rasa takut terus menerus,selalu berwaspada dan hati-hati jangan sampai kene duri jalanan…jalan kehidupan yang selalu ditaburi duri-duri godaan & syahwat,kerakusan dan angan-angan,kekhuatiran dan keraguan,harapan salah atas segala sesuatu yang tidak boleh diharapkan.Ketakutan palsu dari sesuatu yang tidak pantas untuk ditakuti…dan masih banyak duri-duri yang lainnya”.

JALAN MENCAPAI SIFAT TAQWA

MU’AHADAH (mengingati perjanjian) :

memberi komitmen terhadap janji kita terhadap Allah.apa dia?sebagaimana dalam surah al-fatihah ayat 5 yang bermaksud “Kepada DIKAU kami menyembah dan kepadaMU kami memohon pertolongan” dan di dalam takbirratur ihram antara janji kita,“sesungguhnya solatku,amal ibadahku,hidupku,matiku kerana Allah TUHAN sekalian alam”.sentiasa ingat janji kita ini supaya kita sedar bahawa tujuan kita adalah DIA!

MUROQABAH(merasakan kehadiran Allah) :

“hendaklah kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihatnya,dan jika memang kamu tidak melihatnya,maka sesungguhnya Allah melihat kamu (Al-hadis). Bila melakukan sesuatu,atau berlaku sesuatu yang baik atau tidak…pastikan Allah yang kita rasakan dalam hati kita.InsyaAllah keikhlasan akan kita perolehi,keredhaan dan kesabaran daripada Allah akan kita rasai bila sesuatu musibah menimpa diri.Allah…Allah…Allah…!

MUHASABAH (koreksi diri) :

sentiasa koreksi diri kita,sama ada yang kita lakukan selama ini,sepanjang seharian ini dan sebagainya…kita buat atas sebab apa?redha Allah atau redha manusia?mendekatkan diri kita padaNYA atau mengudang amarahNYA ! membuat suruhanNYA dan tinggalakn laranganNYA atau amar munkar nahi ma’ruf?

MU’AQOBAH (denda diri) :

orang yang ini mencapai tahap taqwa,dia akan sanggup mendenda dirinya atas ibadah yang dia tertinggal buat ataupun maksiat yang dia lakukan supaya dia tidak akan mengulangi kesilapannya itu berulang kali.Dia sentiasa ingin jadi lebih baik daripada sebelumnya.Ketika Abu Talhah sedang solat,di depannya lalu seekor burung ,lalu beliau leka sehingga lupa rakaat ke berapa solatnya.kerana hal itu,beliau menyedekahkan kebunnya kepada fakir miskin sebagai balasan terhadap kelalaiaannya.Dendalah mengikut kemampuan diri kita,contohnya jika tak bangun solat malam,didenda diri kita supaya berpuasa 3 hari.

MUJAHADAH(bersungguh-sungguh) :

Allah…inilah yang paling sukar.Mudah menyebut,tapi aplikasinya dalam kehidupan?fuhhh…mujahadah,bersungguh-bersungguh dalam melakukan sesuatu yang baik dan meninggalkan perkara perkara yang dilarangNYA.Karz bin Wabrah selalu mengkhatamkan Al-Quran 3 kali sehari.SubhanaAllah mujahadahnya beliau dalam beribadah…aku?baru cerita pasal baca Quran,tak lagi ulang Quran, Allah…MUJAHADAH ITU PAYAH SANGAT…TAPI NILAINNYA DAN HASILNYA INDAH SANGAT DUHAI DIRI! “Dan orang-orang yang berjihad(bersungguh-sungguh mencari keredhaan)Kami,kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami.Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang yang berbuat baik! (Al-Ankabut 29:69)

From:
mujahidah puteri

mati itu pasti

Subhanallah, Maha Suci ALLAH yang Maha Menciptakan dan Menyempurnakan ciptaan Nya

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.”

[Al-Ankabut : 57]

Detik demi detik berlalu, makin banyak kes kematian berlaku di sekeliling kita hari ini. Adakah ia sebagai suatu tanda peringatan kepada kita semua bahawasanya yang hidup pasti akan merasakan kematian bila mana nyawa pinjaman ini akan terpisah daripada jasad yang disewakan oleh Tuan nya tanpa mengharapkan sebarang bayaran melainkan iman dan taqwa seorang hamba kepada Pemilik jiwa-jiwa itu, ALLAH aza wajalla

Semoga setiap kematian dan peristiwa yang berlaku di sekeliling kita mengukuhkan iman dan taqwa kita kepada Nya sekaligus mempersiapkan jiwa-jiwa ini untuk kembali menemui Tuhan nya. Sesungguhnya jiwa-jiwa orang mukmin tidak sabar-sabar untuk kembali menemui ALLAH kerana kematian merupakan suatu nikmat dan rehat yang panjang daripada segala macam belenggu dan permasalahan yang perlu dihadapi di dunia ini. Hakikatnya, dunia ini memanglah suatu dugaan dan ujian yang besar bagi jiwa-jiwa manusia yang tidak pernah lepas daripada gangguan serta godaan syaitan-syaitan yang direjam. ALLAH telah berfirman bahawasanya manusia itu diciptakan dalam keadaan susah dan payah oleh itu selazimnya kita akan sentiasa merasakan susah ketika hidup ini. Namun begitu, ingatlah tiada istilah putus asa ataupun sebarang keluh kesah yang keluar daripada mulut seorang mukmin kerana ia sentiasa yakin akan pertolongan ALLAH yang sentiasa dekat bagi orang yang menolong agama ALLAH.

Keyakinan yang kuat akan janji-janji ALLAH itu lah yang menjadi tulang belakang serta sumber kekuatan seorang muslim untuk terus istiqamah di jalan ALLAH, terus-menerus melaksanakan amar makruf nahi mungkar tanpa sebarang keluh kesah kerana ia hanya mengharapkan pertolongan ALLAH dan belas kasihan ALLAH untuk mendapatkan nikmat syurga yang kekal selama-lamanya.

Ingatkah kita bahawasanya sahabat-sahabat kita yang telah dijemput untuk menemui ALLAH itu pada suatu masa dahulu pernah diberikan nikmat hidup jua> Mereka pernah bersama-sama kita menghirup udara segar di muka bumi ALLAH dan melalui hari-hari mereka dengan rutin yang pelbagai sehinggalah malaikat maut menjemput mereka pulang ke destinasi sebenar mereka yakni akhirat. Mereka pernah hidup sebelum menemui alam barzakh.

Masihkan kita ingat perihal 5 perkara sebelum datangnya 5 perkara?

Kadang-kadang ku akui sebagai seorang hamba ALLAH yang hina, diri ini terlalai seketika dan lupa untuk menikmati nikmat-nikmat kurniaan ALLAH itu dan mula sedar sesudah rebah tersungkur. Kenapa tidak pernah diri ini merasai nikmatnya sihat itu selagi tidak dicabut perlahan-lahan nikmat itu daripada diri ini? Astaghfighullah al-azim (3x)..

Ada suatu ketika diri ini merasakan kesakitan yang teramat-amat, ketika itu mula lah diingat apa yang telah kulakukan ketika diri ini diberikan nikmat sihat? Bagaimanakah caranya kugunakan nikmat jasad yang sihat ini ketika ALLAH Mengurniakan kelapangan waktu? Adakah betul cara penggunaan masaku sehinggalah datangnya kesempitan? Kenapa manusia sering bertangguh? Adakah hanya apabila datangnya suatu musibah, barulah manusia itu akan sedar? Adakah itu dinamakan suatu penyesalan yang mungkin tidak berguna lagi di sisi ALLAH? Kenapa perlu bertangguh untuk melakukan kebaikan ataupun perubahan??

Adakah kerana kita takut dicop sebagai golongan nerd ataupun yang sewaktu dengannya?? Adakah kerana kita takut kehilangan teman-teman handai? Tidakkah kita yakin akan janji-janji ALLAH?

Kadangkal diri ini sedar, manusia umpamanya lebih suka impress orang lain di sekelilingnya berbanding untuk meletakkan sedikit efforts untuk impress ALLAH..

Namun, taktala merasakan diri merasakan kesusahan, berduyun-duyunlah manusia mencari ALLAH, memohon pertolongan Nya. Adakah adil kiranya sekiranya kita sahaja yang sentiasa mengharapkan pertolongan ALLAh sedangkan kita tidak pernah sedikitpun memikirkan cara-cara untuk contribute something di jalan ALLAH? Adakah layak manusia seumpama ini beroleh nikmat dan balasan syurga Illahi yang nilainya terlampau tinggi sehingga semua amal ibadat yang khusyuk dan mantap pun tidak mampu membeli satu tempat di syurga. Ingatlah hanya dengan belas ihsan ALLAh sahajalah syurga itu dapat menjadi tempat untuk kita langkahkan kaki kita ke dalamnya. Kita hanyalah manusia yang diciptakan daripada setitis air mani yang hina dan tiada nilainya tetapi diangkatkan oleh ALLAH, dimuliakan oleh Nya sebagai sebaik-baik makhluk ciptaan Nya sekaligus merupakan khalifah untuk memakmurkan muka bumi ALLAH ini dengan syariatNyA.

AYuh laksanakan tugas kita sebagai seorang khalifah sebelum nyawa itu diambil ALLAh taktala kita masih belum sempat melakukan apa-apa pun untuk jalan ALLAH.. Sesungguhnya ALLAH dan Islam itu tidak rugi sedikitpun jika kita tidak mahu menolong agama Nya sebaliknya jiwa itulah yang rugi kerana kita telah menidakkan makanan kepada jiwa tersebut yakni pembersihan jiwa yang betul sekaligus membawa jiwa-jiwa itu ke jalan kesesatan yang nyata. Ingatlah tempat yang paling sesuai bagi jiwa-jiwa yang ingkar akan perintah ALLAH itu adalah di neraka jahanam yang kekal selama-lamanya.

Nauzubillah

Wallahua’lam

From:
syairah shamri

Ada seorang hamba Allah ini. Dia keliru dengan cintanya. Dia amat sedih sekali. Insan yang dicintai sekian lama tidak juga kunjung tiba untuk melamarnya. Insan lain yang tidak pernah dikenalinya pula datang merisiknya. Dia tidak tahu siapa harus dipilih. Lalu dia menangis dalam sujudnya memohon petunjuk daripada Allah dikala itu. Usai doanya dia pun membuka tafsir quran. Berharap sangat sedikit motivasi dari kitabullah itu untuk meredakan kesedihan yang melandanya detik itu. Lalu dibukanya. Terlintas dimatanya satu ayat dari surah An-NahI ayat 92

“Dan janganlah kamu seperti perempuan yang meng­uraikan benangnya yang su­dah dipintal dengan kuat men­jadi bercerai-berai kembali…”

Alhamdulillah, Allah masih sudi mendengar rintihan hati kotor ini. Terasalah dia bahawa Allah sedang memujuknya. Teramatlah terharunya insan ini kerana Allah masih sudi mendengar doanya kala itu. Mari kita hayati kisah disebalik ayat ini.

“Oh.. ibu, usiaku sudah lanjut, na­mun belum datang seorang pemuda pun memi­nangku…? Apakah aku akan menjadi perawan seumur hidup?” Kira-kira begitulah keluhan seorang gadis Mekah yang berasal dari Bani Ma’zhum yang kaya raya. Mendengar rintihan si anak, ibunya yang teramat kasih dan sayangkan anaknya lantas kelam kabut ke sana ke mari untuk mencari jodoh buat si puteri.

Pelbagai ahli nujum dan dukun ditemuinya, ia tidak peduli berapa saja wang yang harus keluar dari saku, yang penting anaknya yang cuma seorang itu dapat bertemu jodoh. Namun sayang usaha si ibu tidak juga menam­pakkan buahnya. Buktinya, janji-janji sang dukun cuma bualan kosong belaka. Sekian lama mereka menunggu jejaka datang melamar, sedangkan yang ditunggu tidak pernah nam­pak batang hidungnya.

Melihat keadaan ini tentu saja gadis Bani Ma’zhum yang bernama Rithah AI-Hamqa men­jadi semakin bermuram durja, tidak ada kerja lain yang diperbuatnya setiap hari kecuali mengadap di depan cermin untuk memandang diri sambil terus bertanya-tanya, “Mengapa sampai hari ini tidak kunjung datang juga seseorang yang akan mengahwiniku?” Penantian jodoh yang ditunggu-tunggu Rithah ak­hirnya tamat tatkala ibu saudaranya yang berasal dari luar daerah berkunjung ke rumah mereka dengan membawa jejaka tampan. Akhirnya Rithah yang telah lanjut usia pun menikah dengan jejaka yang muda rupawan. Kenapa sipemuda itu ber­sedia menikahi gadis Bani Ma’zhum yang telah tua itu..?

Oh… ternyata ada udang di sebalik batu. Rupa-rupanya jejaka rupawan yang miskin itu hanya menginginkan keka­yaan Rithah yang melimpah ruah. Sebaik sahaja si jejaka telah berha­sil menggunakan sebahagian harta Rithah ia pun pergi tanpa apa­san dan kesan…. Dan tinggallah kini Rithah seorang diri, menangisi pemergi­an suami yang tidak tentu ke mana perginya.

Kesedihan dan kemurungan­nya dilepaskan Rithah dengan membeli be­ratus-ratus buku benang untuk di­pintal (ditenun), setelah jadi hasil tenunannya, wanita itu mencerai-beraikan lagi men­jadi benang. Lalu ia tenun lagi dan ia cerai beraikan lagi. Be­gitulah seterusnya ia jalani sisa-sisa hidupnya. Sesuailah kata-kata jahiliyyah mengata­kan, Asmara boleh membuat orang jadi gila sasau.” (tentu bagi orang-orang yang tidak memiliki iman) AI-Qur’anul Karim meng­abadikan kisah gadis Bani Ma’­zhum ini dalam surat An-NahI ayat 92),

“Dan janganlah kamu seperti perempuan yang meng­uraikan benangnya yang su­dah dipintal dengan kuat men­jadi bercerai-berai kembali…”

Yang dimaksud Al­Qur’an dengan ‘wanita pengu­rai benang yang telah dipintal’ tidak lain adalah Rithah Al­Hamqa. Dalam ayat tersebut Allah melarang kita berkelakuan seperti Rithah dalam menghadapi masalah jodoh. Namun demikian banyak ibrah(pengajaran) yang dapat kita petik dari episod gadis kaya keturunan Bani Ma’zhum ter­sebut. Kisah Rithah mengajar kita bahawa jodoh sebenarnya merupakan urusan Allah. Jodoh tidak dapat di­hindari manakala kita belum menginginkannya, dan sebaliknya ia juga tidak dapat dikejar ketika kita su­dah teramat sangat ingin men­dapatkannya. Bukankah Rasul pun telah bersabda:

“Ketika di­tiupkan ruh pada anak manu­sia tatkala ia masih di dalam perut ibunya sudah ditetap­kan ajalnya, rezekinya, jodohnya dan celaka atau bahagianya di akhirat”.

Kerana Allah telah menentukan jodoh kita maka tidak layak bagi kita untuk bimbang dan risau seperti Rithah. Kalau sudah sampai waktunya jodoh itu pasti akan datang sendiri. Episod Rithah juga mengajar kita un­tuk melakukan ikhtiar (usaha) dalam mencapai cita-cita. Ka­lau ibu Rithah berjumpa pelbagai ahli nujum agar anaknya berhasil mendapat­kan jodoh, bagi kita tentunya mendatangi AI-Mujub (yang Maha Pengabul doa) agar tujuan kita tercapai. Allah sen­diri telah berfirman:

“Dan apabila hambaKu bertanya tentang Aku, maka jawablah bahawa Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang-orang yang berdoa kepadaKu.. “(QS. 2:186)

Dengan ayat tersebut Allah memberikan harapan yang sebesar-besarnya bahawa setiap doa yang disampaikan padaNya akan dikabulkan. Allah tidak mungkin mungkir janji, siapa yang paling tepat janjinya selain Allah? Dalam sebuah hadis riwayat Abu Da­wud, Tarmizi dan lbnu Majah, Rasul pun bersabda tentang masalah doa,

“Sesungguhnya Allah malu terhadap seseorang yang menadahkan tangannya berdoa meminta kebaikan kepadaNya, kemudian menolaknya dalam keadaan hampa”.

Pengajaran berikutnya yang dapat kita petik, ialah memu­puk sikap ‘sabar’ dalam meng­hadapi jodoh yang mungkin belum juga menghampiri kita padahal usia kita telah sema­kin senja. Firman Allah dalam Surah AI-Baqarah ayat 45,

“Dan jadikanlah sabar dan solat sebagai penolongmu, sesungguhnya yang demikian itu amat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, iaitu orang-orang yang meyakini bahawa mereka akan menemui Rabbnya, dan mereka akan kembali padaNya”.


Sabar dan solat akan selalu membentengi kita dari desakan orang sekeliling dan godaan syaitan yang berharap kita salah langkah dalam ma­salah jodoh ini. Masalah ini banyak ditanggung oleh saudara-saudara kita yang sudah layak nikah namun belum ada juga ikhwah yang datang meminang merupakan ujian yang – wallahu a’lam – sesuai dengan ketetapan Allah. Banyak kisah nyata bahawa resah gelisah dan tidak sabar dalam ma­salah jodoh malah mem­buat kehidupan selepas nikah jadi tidak seindah semasa masih bujang. Di samping itu kita pun harus tetap men­jaga kemur­nian niat kita untuk menikah. Motivasi usia yang semakin senja serta tidak tahan mendengar umpatan orang sekitar harus secepatnya dihilangkan. ltu semua tidak akan menghasilkan suatu rumahtangga Islami yang kita harapkan. Ini adalah kerana kekukuhan rumahtangga kita seiring ada­dengan kuatnya landasan iman dan niat ikhlas kita.

Sungguh beruntung se­kali menjadi orang-orang muk­min. Tatkala mendapat ujian (termasuk jodoh) ia akan ber­sabar maka sabarnya menjadi kebaikan baginya. Dan ketika mendapat nikmat ia bersyukur, maka kesyukurannya itu men­jadi baik pula baginya. Kisah gadis Bani Ma’zhum itu juga memberikan nasihat pada manusia di zaman kemudiannya bahawa jodoh merupakan amanah Allah. Amanah yang hanya akan diberikan pada seseorang yang dianggap te­lah mampu memikulnya kerana amanah merupakan se­suatu yang harus dipelihara dengan baik dan dipertanggungjawabkan. Manakala kita belum dikurniai amanah jodoh oleh Allah, mungkin belum waktunya untuk kita memikul amanah tersebut.

Si­kap kita yang paling baik da­lam hal ini adalah sentiasa bersangka baik (husnudzon) kepadaNya. Kerana sesuatu yang kita cintai atau sesuatu yang kita anggap baik (jodoh) belum tentu baik bagi kita menurut Allah. Begitu pula sebaliknya sesuatu yang kita anggap buruk bagi diri kita belum tentu buruk menurut ilmu Allah.

“Boleh jadi kamu rnencintai sesuatu padahal se­suatu itu amat buruk bagimu, dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu. Kamu tidak menge­tahui sedangkan Allah Maha Mengetahui” (QS. 2:216)

Akhir sekali kisah Rithah mem­berikan ibrah(pengajaran) kepada kita untuk mengarahkan cinta (mahabbah) tertinggi kita kepada yang memang berhak memilikinya. Cinta Rithah yang begitu tinggi diarahkan kepada makhluk (suaminya), hingga membuat ia ‘gila sasau’. Bagi kita tentu cinta yang tertinggi itu hanya patut dipersembahkan buat yang Maha A’lah pula (Khaliq). Bukankah salah satu ciri mukmin adalah asyaddu huballillah ada­pun orang-orang yang beriman itu amat sangat cintanya kepada Allah (asyaddu huballillah)(QS. 2:165). Jika arah cinta kita sudah benar, maka yakinlah Allah SWT tidak akan mengabaikan kehidupan kita. Seorang penyair dari Seberang yang terkenal Khairil Anwar pernah menulis puisi:

Tuhanku Dalam termangu.
Aku masih menyebut namaMu
Walau susah sungguh Mengingat
kau penuh seluruh
Tuhanku Aku hilang bentuk Remuk
Tuhanku Di pintuMu aku me­ngetuk
Aku tidak bisa berpaling
(dari petikan puisi ‘DOA’ – Khairil Anwar)

sampai begitu sekali dalamnya mencintai Allah dalam sajak tersebut, mengapa kita tidak boleh? Wallahua’lam bisshawab…

From:
Hidayah Naim

TIDAK dapat dinafikan tidur adalah satu amalan yang perlu dan pasti bagi setiap insan yang menghuni alam yang fana ini.

Manusia bukannya enjin.

Ia tidak dapat bekerja tanpa rehat. Enjin boleh digerakkan tanpa rehat selagi perkara yang diperlukan olehnya seperti minyak dan sebagainya dapat kita penuhi.

Manusia walau pun mendapat cukup makan dan minum akan merasa penat sekiranya bekerja terus menerus tanpa rehat. Tanpa rehat, tenaga manusia akan terus berkurangan.

Cara berehat sebaik-baiknya bagi manusia bukanlah dengan berhenti bekerja, tetapi dengan tidur.

Melalui tidur tenaga manusia yang digunakan semasa bekerja dapat dipulihkan kembali kerana pada waktu tidurlah segala anggota yang diguna untuk bekerja berhenti daripada tugasnya.

Pentingnya tidur dan waktu rehat itu diakui Allah dengan firman-Nya yang bermaksud:

“Allahlah yang membelah Subuh dan yang menjadikan malam untuk rehat dan menjadikan matahari dan bulan untuk menjadi sumber segala perhitungan. Inilah ketentuan yang Maha Kuasa dan Yang Maha Mengetahui.” (Surah Al- An’am ayat 96).

Walaupun dalam ayat di atas Allah menyatakan malam untuk berehat, sebagai hamba Allah tidak seharusnya menggunakan waktu malam itu untuk tidur semata-mata.

Kita seharusnya ingat dan sedar kepada motif dan tujuan Allah menjadikan manusia.

Motif Allah menjadikan manusia jelas dinyatakan dengan firman-Nya yang bermaksud:

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadat menyembah-Ku.” (Surah Az-Dzaariyaat ayat 56).

Daripada ayat di atas dapatlah kita mengambil pengajaran bagaimana kita harus menggunakan waktu malam. Jika pada siang kita menggunakan kira-kira 100 peratus masa untuk kerja dunia, pada waktu malam biarlah kita peruntukkan sebahagiannya untuk berhubung dengan Allah.

Dan cara yang sebaik-baiknya untuk berhubungan dengan Allah ialah bangun mengerjakan solat Tahajud atau sembahyang tengah malam.

Sesungguhnya, bangun di tengah malam untuk bertahajud banyak kelebihan dan besar pahalanya. Ini jelas dari Firman Allah yang bermaksud:

“Dan dari malam itu hendaklah engkau bangun Tahajud sebagai nafilah (ibadat tambahan) bagimu. Moga- moga Allah akan mengang kat mu ke tingkat yang terpuji.” (Surah Al-Israk ayat 79).

Amalan untuk bangun bertahajud adalah satu perbuatan yang amat berat untuk mengerjakannya.

Keadaan tubuh yang letih dan lesu menyebabkan sesetengah orang itu tidur seperti mati tidak sedarkan diri lagi walau pun puas dikejutkan.

Matanya akan bertambah mengantuk dan tubuhnya bertambah penat apabila mereka tidur lewat kerana asyik menonton televisyen.

Keadaan sejuk dan suasana sepi di tengah malam juga menjadi faktor seseorang nyenyak tidur dan merasa keberatan untuk berhubungan dengan Allah.

Satu persoalan yang boleh diketengahkan di sini ialah mengapakah Allah meletakkan waktu sembahyang Tahajud itu di tengah malam ketika suasana sunyi sepi dan penuh kesejukan? Jawapannya ialah untuk menguji sejauh manakah taatnya seseorang makhluk yang mengaku dirinya bertuhankan Allah.

Manusia yang betul-betul yakin dan patuh kepada Allah tidak akan keberatan bangun di tengah malam untuk bertahajud.

Sesungguhnya sembahyang Tahajud satu daripada sembahyang sunat saja. Tetapi sembahyang ini mempunyai nilai dan kedudukan yang tinggi sekali berbanding dengan sembahyang sunat lain.

Rasulullah bersabda: “Hendaklah kamu Qiamullail (solat malam) kerana sesungguhnya solat malam itu adalah kebiasaan orang soleh sebelum kamu, dan mendekatkan diri kepada Allah, mencegah dari perbuatan dosa, dan menutupi dosa atau kejahatan dan mengusir penyakit dari badan.” (Hadis Riwayat Ahmad, Tirmizi, Hakim dan Baihaqi) Tetapi sedikit sekali umat manusia yang mengaku dirinya ber agama Islam ini sanggup dan bersedia melakukan sembahyang Tahajud walaupun mereka sedar tingginya kedudukan dan nilai solat berkenaan.

Sesungguhnya manusia akan berlumba-lumba melakukan Tahajud jika dapat merasa betapa sedap dan nikmatnya melakukan amalan itu.

Kenyataan itu membuktikan bahawa peminat bola sepak akan bangun jam 2 pagi untuk menonton tayangan siaran secara langsung walau pun hanya keseorangan.

Ini adalah lantaran perasaan dan dorongan minatnya yang berkobar-kobar. Pada hal ula ngan tayangan kepada perlawanan itu biasanya akan dibuat pada waktu siang beberapa hari kemudiannya.

Tidak bolehkah perbuatan yang sama kita lakukan untuk bersembahyang Tahajud? Kita merasa keberatan untuk bangun melakukan sembahyang tersebut kerana kita tidak dapat merasai betapa lazat dan nikmatnya sembahyang Tahajud.

Keheningan malam seolaholah akan memberi kesempatan untuk merapatkan jurang perhubungan antara makhluk dengan khaliq.

Apa yang dibaca oleh seseorang ketika bersembahyang itu seolah-olah didengar dan mendapat layanan daripada Allah Yang Maha Kuasa.

Biasanya permohonan seseorang untuk mendapat sesuatu itu cepat diterima dan dilayan apabila tidak ramai yang memohonnya.

Oleh itu mohonlah keampunan dan limpahan dari Allah ketika orang lain sedang nye nyak tidur. Berhubunglah dengan Allah ketika peluang masih ada, umur masih muda dan pintu taubat masih terbuka. Insya-Allah kita akan mendapat limpahan rahmat daripada Allah.

Kalau dilihatkan pada sirah Sultan Salahuddin Bin Ayubi dalam buku “Salahuddin Ayubi” karangan Abdul Latip Talib, pada malam hari (ketika perang berlangsung), sultan Salahuddin akan meronda khemah2 tentera beliau dan memastikan tenteranya beribadah; solat tahajjud dll. supaya memastikan pasukan tentera Islam sentiasa dibantu oleh Allah SWT.

Rasullullah sendiri bagun malam dan solat tahajjud sehingga bengkak2 kaki lalu ditegur oleh Siti Aisyah, kenapa solat sampai bengkak2 kaki padahal telah dijanjikan syurga.. tapi ap Rasullullah menjawab?

“Salahkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?”

Abu Hurairah R.A meriwayatkan RASULULLAH SAW bersabda :

”Tuhan kita turun SETIAP MALAM ke langit dunia pada SEPERTIGA MALAM terakhir, dan berfirman – Siapa yang BERDOA kepada-Ku PASTI AKU KABULKAN, siapa yang MEMOHON kepada-Ku PASTI AKU BERI, dan siapa yang MEMOHON AMPUN kepada-Ku, PASTI AKU AMPUNI !” (HR. Al-Jama’ah).

Amr bin Al-Ash meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda :

”Sedekat-dekat hamba kepada Allah SWT adalah PADA TENGAH MALAM TERAKHIR. Apabila engkau bisa termasuk golongan orang BERDZIKIR mengingat Allah SWT pada saat itu, maka lakukanlah ” (HR. Al-Hakim).

Salman Al-Farisi meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda :

”Kerjakanlah shalat malam, sebab itu adalah KEBIASAAN ORANG SOLEH sebelum kamu, JALAN MENDEKATKAN DIRI kepada Tuhan, PENEBUS KESALAHAN, PENCEGAH DOSA, serta PENGHALAU SAKIT ”.

“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS 73:1-6)

Subhanallah ! Demikian besarnya keutamaan Shalat Tahajud. Marilah kita mulai rutin lakukan !

Pelaksanaan :
– Shalat malam sebaiknya DILAKUKAN DI RUMAH, bukan di Masjid.
– Bacaan shalat malam BOLEH NYARING dan juga BOLEH PELAN.
– Jumlah rakaatnya MINIMAL 2 rakaat, 4, 8, dst, tidak terbatas.
– Diakhiri dengan SHALAT SUNNAH WITIR 3 rakaat, ganjil. (optional n bonus)

From:
Syamila Ila

Wanita di bawah Cahaya al-Quran dan al-Sunnah

Pendahuluan

Apakah sifat seorang wanita yang beriman kepada Allah dan RasulNya?
Bagaimanakah seorang wanita itu seharusnya bertingkahlaku untuk dia digelar wanita yang solehah?
Dan apakah petunjuk Nabi kepada kaum wanita dari kalangan umatnya dalam menjalani kehidupannya?

Sesungguhnya tidaklah seorang wanita itu mengikut setiap pesanan dan nasihat dari guru sekalian umat ini melainkan dia digelar wanita yang solehah. Tiada satu pun yang dapat mengukur kebaikan dan kemuliaan seorang wanita itu melainkan dengan kekuatannya berpegang kepada al-Quran dan al-Sunnah. Tulisan ini akan menjawab persoalan-persoalan yang diutarakan di atas berdasarkan dalil-dalil dari al-Quran dan al-Sunnah. Wahai kaum wanita, perhatilah dan selamilah petunjuk serta wasiat dari Penciptamu dan Rasulmu serta hadapilah hidup ini dengan hati yang lurus!

Sifat wanita yang beriman

Sekiranya seorang wanita itu berakhlak dan menghiasi dirinya dengan sifat-sifat berikut, maka bergembiralah dia dengan syurga yang dijanjikan oleh Allah untuknya.

(1) Keimanan dan taqwa kepada Allah serta kecintaannya kepada Rasul :

Seorang wanita itu seharusnya mendahulukan Allah dan Rasul dalam apa jua perkara serta menjadikan keduanya sebagai kayu ukur dalam setiap gerak-geri dan tingkahlakunya.
Allah Ta’ala berfirman yang bermaksud :

«Tiadalah bagi lelaki yang beriman dan wanita yang beriman (hak) untuk memilih dalam urusan mereka apabila Allah dan RasulNya telah memutuskan urusan itu. Barangsiapa menderhakai Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata» [al-Ahzab : 36].

Dan Nabi : telah menjanjikan bahawa mereka yang mendahulukan Allah dan RasulNya dalam setiap perkara maka mereka akan mendapat kemanisan iman. Nabi : berkata yang membawa maksud :

«Tiga perkara yang mana ia terdapat pada diri seseorang itu, maka dia akan merasai kemanisan iman ; orang yang mencintai Allah dan RasulNya melebihi segala sesuatu; orang yang mencintai orang lain kerana Allah; dan orang yang membenci kekafiran sebagaimana dia membenci dimasukkan ke dalam api neraka»[1].

Seorang wanita yang beriman itu selalu mengingati Allah dalam keadaan bersendiri mahupun ramai, dan dalam keadaan senang ataupun susah. Hatinya sentiasa terikat dengan Allah dan dia sentiasa memelihara iman di dalam hatinya dengan zikir, ibadah-ibadah sunat, membaca al-Quran serta memerhati tanda-tanda kekuasaan Allah. Kehidupan bagi seorang wanita itu bukanlah emas dan perhiasan, kehidupan juga bukan suami ataupun keluarga; tetapi kehidupan bagi seorang wanita itu ialah iman dan amalan-amalan soleh yang akan dibawa berjumpa Allah kelak. Allah berfirman yang bermaksud :

«Barangsiapa mengerjakan kebaikan baik lelaki ataupun perempuan, sedang dia beriman, nescaya Kami hidupkan dia dengan kehidupan yang baik; dan Kami balasi mereka dengan pahala yang terlebih baik dari apa yang telah mereka amalkan» [al-Nahl : 97].

Seorang wanita yang menjadikan al-Quran dan al-Sunnah sebagai tunggak hidupnya, maka dia akan menjalani kehidupan di dunia ini dengan aman dan bahagia. Dari Suhaib al-Rumi, Nabi berkata yang bermaksud :

«Sungguh mengkagumkan urusan orang mukmin itu, setiap urusannya adalah baik, tidaklah perkara ini berlaku kepada seseorang pun melainkan orang mukmin, jika dia mendapat perkara gembira, dia bersyukur, itu adalah baik baginya, dan jika dia ditimpa musibah, dia bersabar, itu adalah baik baginya»[2].

(2) Sentiasa melazimi rumah dan tidak berhias-hias (tabarruj).

Sekian banyak dalil-dalil dari al-Quran dan al-Sunnah yang menunjukkan bahawa melazimi rumah itu adalah lebih baik bagi seorang wanita. Setiap apa yang disebut sebagai ‘baik’ oleh Allah dan Rasul, maka tiadalah sesuatu pun yang lebih baik dari perkara itu. Allah berfirman di dalam al-Quran yang menunjukkan perintah kepada isteri-isteri Nabi yang bermaksud :

«Tetaplah kamu dalam rumahmu dan janganlah kamu berhias-hias seperti berhiasnya perempuan jahiliyah yang dahulu…» [al-Ahzab : 34].

Ibn Kathir berkata ketika menafsirkan ayat ini : “Adab-adab ini telah Allah perintahkan kepada isteri-isteri Nabi dan wanita umat ini (untuk mereka mengikuti ummahat al-mukminin)…(ayat ini bermaksud) iaitu tetaplah kalian dan janganlah keluar tanpa sebarang hajat dan antara hajat yang dibenarkan syara’ ialah solat di masjid dengan syarat yang telah ditetapkan[3]”. Manakala al-Qurtubi pula berkata : “Ayat ini menunjukkan perintah untuk tetap di rumah, walaupun ayat ini ditujukan kepada isteri-isteri Nabi, tetapi dari segi makna, ia juga merangkumi wanita-wanita lain, bagaimana tidak, sedangkan banyak perintah syara’ yang menyuruh wanita tetap di rumah dan tidak keluar kecuali darurat[4]”..

Dalam suatu hadis, Nabi berkata yang bermaksud : «Solat wanita di (bahagian dalam) rumahnya lebih baik dari solatnya di ruangan luar rumahnya[5], dan solatnya di dalam rumah kecilnya (makhda'[6]) lebih baik dari solatnya di dalam bahagian dalam rumahnya (tadi)»[7]. Walaubagaimana pun, wanita dibenarkan untuk solat di masjid, tetapi solat mereka di rumah itu adalah lebih baik seperti yang dikatakan oleh Nabi yang bermaksud:

«Janganlah kamu halang isteri-isteri kamu (bersolat) di masjid, (akan tetapi) rumah-rumah mereka
itu lebih baik bagi mereka
»[8].

Dalam syarah hadis ini disebutkan : ‘Solat wanita di rumah itu lebih baik bagi wanita daripada solat mereka di masjid sekiranya mereka mengetahui, tetapi mereka tidak mengetahuinya lantas meminta izin untuk ke masjid dan menganggap bahawa pahala mereka bersolat di masjid itu lebih banyak. Solat mereka di rumah itu lebih baik kerana ia lebih aman dari fitnah, lebih-lebih lagi setelah berlakunya tabarruj dan berhias-hias di kalangan wanita…[9]’. Perintah ini dikuatkan lagi dengan sebuah hadis Nabi yang bermaksud :

«Wanita itu aurat, jika dia keluar maka syaitan akan memandangnya, dan seorang wanita itu paling hampir dengan Tuhannya sekiranya dia berada tetap di dalam rumahnya»[10].

Perkataan ‘istasyrafa’ dalam hadis di atas membawa maksud syaitan akan mencantikkan wanita itu di mata lelaki, dan ada pendapat yang mengatakan bahawa maksud hadis ini ialah syaitan akan memandang wanita itu untuk menyesatkannya dan orang lain akan menjadi sesat disebabkan olehnya[11]. Subhanallah! Hadis ini menunjukkan kelebihan melazimi rumah bagi seorang wanita dan itu merupakan antara cara yang terbaik untuk dia mendekatkan diri kepada Allah. Maksudnya sama seperti hadis[12] yang menyatakan bahawa seorang hamba itu paling hampir dengan Allah dalam keadaan sujud, yang mana hadis ini menunjukkan kelebihan sujud dan galakan untuk memperbanyakkan sujud.

Perintah bagi wanita supaya tetap di rumah dan larangan untuk mereka keluar dikecualikan sekiranya mereka keluar dengan sebab-sebab dan hajat tertentu yang dibenarkan syara’. Ini berdasarkan hadis Nabi di mana Aisyah :radhia menceritakan : Saudah :radhia telah keluar –selepas turunnya perintah hijab- kerana hajat tertentu, dan dia adalah seorang wanita yang berbadan besar, mereka yang mengenalinya pasti akan akan mengetahui bahawa dia adalah Saudah (walaupun dia memakai pakaian menutupi seluruh badan ataupun keadaan malam yang gelap), maka Umar melihatnya lalu berkata : Wahai Saudah, demi Allah, kamu tidak akan dapat menyembunyikan diri dari kami, maka fikirlah cara bagaimana kamu keluar tanpa dikenali. Aisyah berkata: Maka Saudah pun pulang, dan Baginda berada di rumahku sedang makan malam dan tangannya menggenggam daging, lalu dia masuk dan berkata : Wahai Rasulullah, aku telah keluar untuk menunaikan hajatku dan Umar telah berkata kepadaku (itu dan ini). Aisyah berkata : Maka Allah telah menurunkan wahyu kepadanya dan ketika keadaan itu selesai, daging itu masih berada di genggamannya seakan-akan beliau tidak mahu menyimpannya, lalu Nabi bersabda : «Kamu diizinkan keluar untuk memenuhi keperluanmu»[13].

(3) Sentiasa menundukkan pandangan dan memelihara dirinya.

Seorang wanita yang beriman dan solehah itu sentiasa menundukkan pandangannya dari melihat perkara-perkara yang haram dan sentiasa memelihara kehormatan dirinya sebagai seorang wanita yang beriman.

Telah menjadi kebiasaan bagi wanita-wanita zaman ini samada yang sudah bersuami atau pun masih belum berkahwin –kecuali mereka yang dipelihara oleh Allah- untuk mempunyai sahabat dari kalangan lelaki. Ini bertentangan dengan sifat wanita yang beriman dari kalangan hamba yang disifatkan oleh Allah dalam surah al-Nisa’ yang bermaksud :

«…dan berikanlah kepadanya mas kahwinnya dengan kadar yang patut, sedang hamba itu perempuan yang baik, bukan perempuan lacur dan bukan pula mengambil lelaki lain sebagai teman secara rahsia…» [al-Nisa’ : 25].

Inilah budaya barat yang cuba diserap masuk di kalangan wanita-wanita Muslimah kerana musuh-musuh Allah ini tahu bahawa rosaknya wanita Muslimah bererti rosaklah generasi Islam yang akan datang! Tetapi malangnya, fenomena ini dianggap biasa di zaman ini bahkan wanita yang tiada sahabat lelaki itu pula yang dikatakan ketinggalan zaman serta tidak pandai bersosial dan sebagainya.
Allah jualah tempat meminta pertolongan.

Firman Allah lagi dalam surah yang sama mengenai sifat-sifat wanita yang baik
itu :

«…Perempuan-perempuan yang solehah ialah perempuan-perempuan yang taat, yang memelihara kehormatannya sewaktu suaminya tiada, sebagaimana Allah telah memeliharakan dirinya…» [al-Nisa’ : 34].

Maksudnya, mereka ini memelihara kehormatan diri mereka dan memelihara rahsia suami ketika ketiadaannya sebagaimana Allah memelihara mereka dengan memerintahkan para suami supaya bergaul dengan baik dengan mereka dan menunaikan hak-hak para isteri[14]. Inilah ciri-ciri wanita yang solehah. Manakala perintah menundukkan pandangan pula tidaklah terhad pada lelaki sahaja, bahkan Allah telah mengkhususkan satu ayat yang menyuruh para wanita juga menundukkan pandangan. Firman Allah yang bermaksud :

«Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman, supaya mereka merendahkan pandangan…» [al-Nur :
31].

(4) Menjaga lisan daripada mengumpat, memfitnah dan sebagainya.

Suka mengumpat, mencerca dan melaknat adalah satu sifat yang sering dikaitkan dengan wanita
–kita memohon keselamatan dari Allah supaya dijauhkan dari sifat ini-. Manakan tidak, sedangkan Allah sendiri mengkhususkan larangan ini kepada wanita di samping ayat yang umum melarang orang mukmin itu menghina sesama mukmin. Allah berfirman yang bermaksud :

«…dan jangan pula kaum perempuan menghina kaum perempuan yang lain, kerana boleh jadi perempuan yang dihina itu lebih baik dari perempuan yang menghina…» [al-Hujurat : 11].

Allah mengkhususkan larangan ini kepada wanita kerana kaum inilah yang seringkali cepat mengeluarkan kata-kata yang tidak baik samada mengumpat, menghina, mengata dan sebagainya[15]. Syeikh al-Sa’di rahimahullah di dalam tafsirnya berkata : ‘…pada realitinya memang selalunya mereka yang dihina itu lebih baik dari yang menghina, kerana penghinaan itu tidak akan datang kecuali dari hati yang penuh dengan keburukan dan akhlak yang keji…'[16].

Allah Ta’ala juga berfirman yang bermaksud :

«…dan janganlah kamu mengumpat orang lain, sukakah salah seorang kamu memakan daging saudaranya yang telah mati?… » [al-Hujurat : 12].

Maka selayaknya bagi wanita yang beriman untuk menjauhi larangan Allah ini dan cuba sedaya-upaya untuk menjaga lisannya dari berkata yang tidak baik.. Hendaklah seorang wanita itu bertaqwa pada Allah dan meletakkan syurga dan neraka di hadapannya sebelum berkata apa-apa mengenai orang lain.

Dari Huzaifah :radhia, Nabi berkata yang bermaksud :

«Tidak akan masuk syurga qattaat (orang yang mendengar sesuatu sedangkan dia tidak mengetahui
hakikat sebenarnya dan kemudian menyebarkannya untuk tujuan berbuat kerosakan[17])[18].

——————————————————————————————————–
Rujukan

[1] Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Sahihnya, Kitab Bad’u al-wahyi, Bab Halawat al-iman, no. hadis : 16; Muslim dalam Sahihnya, Kitab al-Iman, Bab Bayan khisal man ittashafa bihinna wajada fiihi halawat al-iman, no. hadis : 67; al-Nasa’ie dalam Sunannya, Kitab al-Iman wa syara’i’ihi, Bab Halawat al-iman, no. hadis : 4988; Ahmad dalam Musnadnya, 3/103, no. hadis : 12021.

[2]Diriwayatkan oleh Muslim dalam Sahihnya, Kitab al-Zuhd wa al-Raqa’iq, Bab al-Mu’min amruhu kulluhu khayr, no. hadis : 64; Ibn Hibban, Sahih Ibn Hibban bi Tartib Ibn Balban, Kitab al-Jana’iz, Bab Ma ja’a fi al-sabr, no. hadis : 2896. Lafaz hadis ini adalah lafaz Muslim.

[3]Ibn Kathir, Tafsir al-Quran al-‘Azhim, (T.Tp, T.Th) 3/636.

[4]Al-Qurtubi, al-Jami’ li Ahkam al-Quran, (T.Tp, T.Th) 14/158.

[5]Al-Hujurat : Kawasan lapang di dalam rumah.. Lihat : al-‘Azhim Abadi, Syaraf al-Haq Muhammad Asyraf, ‘Aun al-Ma’budSyarh Sunan Abi Daud, (Beirut : Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi, 2001) 2/166.

[6]Al-makhda’ : Rumah kecil yang ada dalam rumah besar; tempat menyimpan barang-barang yang berharga. Lihat : Ibid.

[7]Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunannya, Kitab al-Salat, Bab al-Tasydid fi zalik, no. hadis : 570; Ibn Khuzaimah dalam Sahihnya, Kitab al-Salat, Bab Ikhtiyar Salat al-Mar’ah fi Baytiha ‘ala Salatiha, no. hadis : 1688; al-Hakim dalam al-Mustadrak, Kitab al-Imamah wa Salat al-Jama’ah, no. hadis : 757; al-Baihaqi dalam Sunannya, Kitab al-Haidh, Bab Khayr Masajid al-Nisa’ Qa’r Buyutihinna, no. hadis : 5144. Berkata al-Hakim : ‘Hadis ini hadis sahih menepati syarat Bukhari dan Muslim tetapi mereka tidak meriwayatkannya di dalam kitab mereka. Keduanya berhujah dengan Muwarriq ibn Musyamrij al-‘Ajaliyy'; dan ia dipersetujui oleh al-Zahabi.

[8]Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunannya, Kitab al-Salat, Bab Ma ja’a fi khuruj al-nisa’ ila al-masjid, no. hadis : 567; Ahmad, 2/76, no. hadis : 5468 & 5471; al-Hakim dalam al-Mustadrak, Kitab al-Imamah wa Salat al-jama’ah, no. hadis : 755; al-Baihaqi dalam Sunannya, Kitab al-Haidh, Bab Khayr Masajid al-Nisa’ Qa’r Buyutihinna, no. hadis : 5142. Berkata al-Hakim : ‘Hadis ini sahih menepati syarat Bukhari dan Muslim, keduanya berhujah dengan al-‘Awwam bin Hawsyab dan telah thabit bahawa Habib mendengar dari Ibn Umar; tetapi mereka tidak meriwayatkan penambahan dalam hadis ini ‘wa buyutuhunna khayrun lahunna”. Dipersetujui oleh al-Zahabi.

[9]al-‘Azhim Abadi, op. cit, 2/165.

[10]Diriwayatkan oleh al-Tirmizi dalam Sunannya, Kitab al-Ridha’, Bab bi dun tarjamah , no. hadis : 1173; Ibn Hibban dalam Sahihnya, Kitab al-Hazr wa al-Ibahat, no. hadis : 5599; Ibn Abi Syaibah dalam al-Musannaf, Kitab al-Salawat, Bab Man kariha zalik, no. hadis : 7616; Ibn Khuzaimah dalam Sahihnya, Kitab al-Salat, Bab Ikhtiyar Salat al-Mar’ah fi Baytiha ‘ala Salatiha…, no. hadis : 1685; al-Tabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir dan al-Awsath, no. hadis : 10115 & 8096. Dalam riwayat al-Tirmizi oleh Abdullah, tiada lafaz : ‘Wa aqrabu ma takuunu…’ dan dia berkata : ‘Ini hadis hasan sahih gharib’. Berkata al-Haithami : ‘Diriwayatkan oleh al-Tabarani dalam al-Kabir dan perawi-perawinya dipercayai’. Lihat : al-Haithami, Nur al-Din Ali bin Abi Bakr, Majma’ al-Zawa’id wa Manba’ al-Fawa’id, (Beirut : Dar al-Fikr, 1412H) 2/156.

[11]Lihat : al-Mubarakfuri, Muhammad Abdul Rahman bin Abdul Rahim, Tuhfat al-Ahwazi bi Syarh Jami’ al-Tirmizi, (Beirut : Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2001) 4/283.

[12]Diriwayatkan oleh Muslim dalam Sahihnya, Kitab al-Salat, Bab Ma Yuqaal fi al-Ruku’ wa al-Sujud, no. hadis : 482; Abu Daud dalam Sunannya, Kitab al-Salat, Bab Fi al-Du’a fi al-Ruku’ wa al-Sujud, no. hadis : 875; al-Nasa’ie dalam Sunannya, Sifat al-Salat, Aqrab Ma Yakuunu al-‘Abd Min Allah ‘Azza wa Jalla, no. hadis : 1137; Ahmad dalam Musnadnya, 2/421, no. hadis : 9442.

[13]Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Sahihnya, Kitab al-Tafsir, Bab Qauluhu Ta’ala : [33 : 53], no. hadis : 4517; Muslim dalam Sahihnya, Kitab al-Salam, Bab Ibahat al-khuruj li al-nisa’ li qadha’ hajat al-insan, no. hadis : 2170.

[14]Lihat : al-Baghawi, al-Hussain bin Mas’ud, Ma’alim al-Tanzil, (al-Riyadh : Dar Thiibah, 2002M/1423H) 1/519.

[15]Lihat : al-Qurtubi, op. cit., 16/275.

[16]Al-Sa’di, Abdul Rahman bin Nasir, Taysir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, (al-Riyadh : Dar al-Salam, 2002M/1422H) 945.

[17]Lihat : Ibn Hajar, Ahmad bin Ali Abu Fadhl, Fath al-Bari, (Beirut : Dar al-Ma’rifah, 1379H) 10/473.

[18]Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Sahihnya, Kitab al-Adab, Bab Ma Yukrahu min al-Namimah, no. hadis : 5709; Abu Daud dalam Sunannya, Kitab al-Adab, Bab fi al-Qattaat (al-Nammaam), no. hadis : 4871; Ahmad dalam Musnadnya, 5/382, 389, 397, 402, 404; al-Nasa’ie dalam Sunan al-Kubra, Kitab al-Tafsir, Surah al-Qalam, no. hadis : 11614.

Source of:
Namir al-haq

suka kata-kata hikmah.

Orang yang bahagia itu akan selalu menyediakan waktu untuk membaca kerana membaca itu sumber hikmah menyediakan waktu tertawa kerana tertawa itu muziknya jiwa, menyediakan waktu untuk berfikir kerana berfikir itu pokok kemajuan, menyediakan waktu untuk beramal kerana beramal itu pangkal kejayaan, menyediakan waktu untuk bersenda kerana bersenda itu akan membuat muda selalu dan menyediakan waktu beribadat kerana beribadat itu adalah ibu dari segala ketenangan jiwa.

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,079 other followers